Oleh: telukbone | Juli 21, 2008

Drama Klasik Bugis sarat bahasa Bugis halus

Drama Klasik Bugis Sarat Bahasa Bugis Halus PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh gita
Saturday, 19 July 2008
AM MOCHTAR kembali ke panggung teater setelah fakum beberapa tahun. Kali ini ia menggarap sebuah pertunjukan besar. Drama klasik Bugis berjudul We Sangiang I Mangkawani sedang dalam penggarapan yang direncanakan dipentaskan setelah Ramadan nanti.
“Sekarang puluhan pemain mulai aktif latihan. Proses latihan akan berlangsung sampai bulan Ramadan, dan setelah itu tinggal pemantapan dan siap dipentaskan,” kata Mochtar seusai menyaksikan puluhan pemainnya berlatih di Gedung Kesenian Sulawesi Selatan.
Cerita yang ditulis Mochtar ini sebenarnya sudah pernah ditampilkan. Namun kali ini akan ditampilkan dalam versi baru. Di versi baru inilah penonton akan merasakan keklasikan drama Bugis ini.
“Penonton tidak seakadar merasakan keklasikan pertunjukan ini lewat kostum para pemain, tetapi lebih dari itu. Misalnya, dalam dialog para pemain akan terdengar asing bagi penonton yang sekali pun dia orang Bugis. Karena dialog yang digunakan adalah bahasa Bugis halus, yang orang Bugis sendiri sudah banyak yang tidak paham,” kata Mochtar.
Ridwan Effendy sebagai supervisor menjelaskan, pertunjukan ini memang lain dari yang lain. Pertunjukan dikemas sedemikian rupa sehingga bisa menarik untuk ditonton pejabat, politisi, pengusaha, dan seniman. Rencananya dipentaskan tiga dua hari di Gedung Kesenian dan sehari di CCC, Makassar.
Cerita Mochtar ini mengisahkan Mangkawani dijodohkan dengan putra Raja Luwu. Ketika rombongan Raja Luwu datang, ternyata Mangkawani sudah menjalin hubungan dengan La Domai. Padahal, La Domai termasuk dibesarkan keluarga Mangkawani.
Konflik pun tak terelakan. Tonrawali, kakak Mangkawani yang sudah menganggap La Domai sebagai bagian keluarga, tidak tega untuk menghabisi La Domai. Keluarga Mangkawani dalam posisi sulit.
Tetapi keluarga telanjur malu. Demi menegakan harga diri keluarga, Tonrawali membunuh La Domai. Dan, karena cintanya terhadap La Domai, Mangkawani pun memilih bunuh diri. Karena sama saja, tanpa La Domai ia hidup tanpa apa-apa lagi, karenanya lebih baik ikut mati bersamanya.
“Dalam konflik itu tidak akan dipentaskan berkelahi secara fisik seperti biasanya, tetapi dengan sangat halus, dilatarbelakangi kibasan kain dan lampu, serta iringan a’mure. Karena pementasan ini yang dijaga benar-benar ciri khas klasiknya,” kata Ridwan Effendy.

Tanggapan

  1. orag bugis punya sejarah besar

  2. Jiwa- jiwa orang Bugis memang selalu besar dan bersahaja.
    Siri’ adalah rasa yang masih dijunjung tinggi dan semestinya memang harus selalu begitu.

  3. woi gw hajar lo sampe mampus gw tunggu lo di jln pak kasih tunggu lo

  4. anak setan lu pada bisanya niu\pu orang TUA!


Beri tanggapan

Your response:

Kategori