Oleh: telukbone | Maret 8, 2008

SAINS & TEKNOLOGI


Fosil gigi manusia Neanderthal berusia 40.000 tahun ini ditemukan di Yunani tahun 2002

Fosil Gigi Tunjukkan Jelajah Manusia Neanderthal

Manusia Neanderthal yang pernah hidup berdampingan dengan manusia modern puluhan ribu tahun lalu mungkin memiliki jiwa petualangan yang kuat. Analisis terbaru terhadap fosil giginya menunjukkan bahwa manusia purba itu menyebar lebih jauh dari perkiraan semula.

“Jelajah Neanderthal sangat kontroversial,” kata Katerina Harvati dari Institut Max Planck Bidang Antropologi Evolusi di Leipzig, Jerman, Jumat (8/2). Beberapa pakar menilai mereka hanya menyebar di lokasi terbatas, namun pakar lainnya menduga sebaliknya, terutama saat berburu.

Sampai sekarang, tidak ada bukti seberapa jauh daya jelajah seorang manusia Neanderthal. Para paleontolog (pakar arkeologi kuno) hanya memperoleh bukti tak langsung dari perkakas batu yang digunakannya.

Maka, tim yang dipimpin Harvati menggunakan fosil gigi untuk memperoleh bukti langsung. Fosil tersebut merupakan satu-satunya fosil Neanderthal yang ditemukan di Yunani. Fosil gigi berusia 40.000 tahun ditemukan pada penggalian di pantai selatan Peloponnese, Yunani, pada tahun 2002.

Para peneliti mengukur rasio isotop strontium pada lapisan email gigi tersebut untuk mengetahui daya jelajahnya. Strontium merupakan unsur logam yang terkandung dalam makanan dan air. Kadar isotop metal bervariasi di daerah yang berbeda-beda.

Hasilnya, kadar strontium pada gigi menunjukkan bahwa Neanderthal dibesarkan di daerah yang berjarak setidaknya 20 kilometer dari tempatnya saat meninggal. Ini merupakan bukti pertama yang menunjukkan daya jelajah manusia Neanderthal secara langsung dari fosilnya.

“Temuan kami membuktikan bahwa jaringan tempat tinggalnya lebih luas dan terorganisasi daripada perkiraan sebelumnya,” ujar Eleni Panagopoulou, salah satu peneliti dari Departemen Paleoantropologi-Speleologi Yunani Selatan.

Meski baru kali ini dibuktikan lansgung, tidak semua menganggap temuan ini signifikan. Misalnya, Clive Finlayson, direktur Museum Gibraltar. Buat seorang manusia, 20 kilometer mungkin belum apa-apa.

“Saya akan lebih terkejut bila mengetahui bahwa Neanderthal tidak menyebar lebih dari 20 kilometer sepanjang hidupnya, atau bahkan dalam setahun. Sebab kita membicarakan manusia, bukan tumbuh-tumbuhan,” ujar Finlayson. (Sumber : Kompas)


Sejumlah fosil untu buto dan tanduk kerbau yang diperkirakan berusia 500.000 tahun ditemukan di Bukit Patiayam, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, 3 Oktober 2005.
Ditemukan Fosil Kaki dan Gading Gajah Purba

Dalam kurun waktu setengah bulan terakhir, sejumlah penduduk menemukan fosil kaki dan gading gajah purba, kerang laut, serta 22 gigi kerbau atau banteng, seluruhnya di wilayah Situs Patiayam, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Diperkirakan usia fosil tersebut 700.000 tahun hingga satu juta tahun.

Fosil dua kerang laut ditemukan Sugiyo. Fosil itu berukuran panjang 29-47 sentimeter, lebar 20-30 sentimeter, dan tinggi 10-12 sentimeter.

Tim Balai Arkeologi Yogyakarta yang diterjunkan ke lokasi pada November 2007 sebelumnya berhasil menemukan tiga batu yang berfungsi sebagai kapak dan sabit oleh manusia purba (Homo erectus).

Dengan penemuan tersebut, mulai terkuak bentuk budaya manusia purba yang diperkirakan hidup pada bentang waktu satu juta hingga 500.000 tahun lalu. Selain itu, Tim Balai Arkeologi Yogyakarta yang dipimpin langsung Kepala Balai Arkeologi Yogyakarta Siswanto juga berhasil menemukan fosil gajah purba (Stegodon trigonocephalus) dalam kondisi relatif utuh.

Siswanto maupun arkeolog senior Harry Widianto menyatakan penemuan tersebut tergolong istimewa mengingat perburuan tim ahli untuk menguak Situs Patiayam sudah dimulai sejak 1979, tetapi baru sekarang bisa menemukan benda yang menjadi kunci pembuka tabir Situs Patiayam secara lengkap.

Fosil gajah purba yang relatif masih utuh masih dibiarkan di lokasi dan menurut rencana akan dibuatkan duplikat. ”Kami sudah ajukan anggarannya, sebesar Rp 20 juta,” tutur Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kudus Brata Subagya, Selasa (5/2).

Situs Patiayam tercatat sebagai situs hominid bersama Situs Sangiran, Trinil, Kedungbrubus, Perning, Ngandong, dan Ngawi. ”Memang dibandingkan dengan Sangiran, manusia purba di Situs Patiayam jauh lebih sedikit, hanya bisa dihitung dengan jari tangan,” ujar Harry Widianto.


Ilustrasi buaya purba spesies Montealtosuchus arrudacamposi yang diyakini sebagai penyambung mata rantai evolusi buaya.

Mata Rantai Evolusi Buaya Ditemukan di Brasil

Buaya dikenal sebagai hewan prasejarah yang masih bertahan tanpa mengalami perubahan struktur tubuh selama jutaan tahun. Namun, sejak kapan buaya mulai beradaptasi hidup di dua alam masih menjadi misteri sains yang belum terpecahkan.

Mata rantai evolusi buaya yang terputus itu sedikit terjalin dengan ditemukannya fosil reptil mirip buaya di Brasil. Fosil predator yang memiliki panjang sekitar 1,7 meter itu berumur 80 juta tahun atau berasal dari Periode Cretaceous Akhir.

“Ini penting bagi sains karena spesimen tersebut secara teori merupakan penyambung antara buaya primitif yang hidup antara 80-85 juta tahun lalu dan spesies buaya modern,” kata Ismar de Souza Carvalho dari Universitas Federal Rio de Janiero, Brasil, Kamis (31/1) lalu.

Spesies tersebut diberi nama Montealtosuchus arrudacamposi yang diam,bil dari nama tempat ditemukannya, Monte Alto, di Sao Paulo, dan nama ilmuwan lokal yang menggalinya pertama kali tahun 2004, Arruda Campos. Hewan tersebut memiliki struktur tubuh mirip buaya, namun moncongnya lebih panjang dan hidup sepenuhnya sebagai predator di darat.(REUTERS)


Sosok Triceratops dari fosil tulang-belulangnya yang disimpan di Museum Senckenberg, Frankfurt, Jerman.

Tengkorak Triceratops Berusia 65 Juta Tahun

PARIS, MINGGU – Sebuah fosil tengkorak Triceratops berusia 65 juta tahun merupakan salah satu koleksi benda-benda purbakala yang akan dilelang di Balai Lelang Christie, Paris, Prancis. Fosil tersebut diprediksi akan laku minimal 500.000 euro (sekitar Rp7 miliar) pada lelang yang dijadwalkan pada 16 April 2008.

Triceratups merupakan jenis dinosaurus yang memiliki tiga buah tanduk. Hewan berkaki empat tersebut dapat tumbuh hingga setinggi 7,5 meter.

Fosil Triceratops diperkirakan menjadi koleksi kedua termahal yang pernah dilelang. Koleksi paling bernilai yang pernah dilelang adalah fosil T-rex yang diberi nama Sue pada lelang di New York, Oktober 1997.

Selain fosil tengkorak Triceratops, balai lelang Christie juga akan menjual koleksi benda-benda purbakala lainnya. Total terdapat 150 buah koleksi yang akan dilelang.

Antara lain, taring harimau bergigi pedang yang diperkirakan senilai 45.000 euro dan tulang kering dinosaurus jenis apatosaurus senilai 30.000 euro. Telur T-rex yang terawetkan di dalam kristal diharapkan terjual antara 20.000-25.000 euro dan gigi hiu purba raksasa diprediksi dapat terjual sampai 4.000 euro.

Koleksi dari sebuah museum pribadi di Jerman menawarkan tengkorak edmontosaurus, jenis dinosaurus berparuh bebek, antara 70.000-80.000 euro. Fosil mineral seperti sarang burung kondor seberat 400 kilogram yang diperkirakan senilai antara 30.000-35.000 euro.Total hasil lelang diperkirakan mencapai 1,6 juta euro.


Kepingan-kepingan fosil tengkorak manusia purba di Provinsi Henan ini masih mengandung membran otak.

Fosil Membran Otak Manusia Purba Ditemukan di China

engkorak manusia purba yang baru ditemukan di China ini disebut temuan terpenting setelah fosil ‘manusia Peking’. Sebab, fosil yang diperkirakan berusia 100.000 tahun itu masih menyisakan membran otak di bagian rongganya.

Para arkeolog China menemukan fosil tersebut di daerah Xuchang, di pusat Provinsi Henan, bulan lalu, setelah penggalian di wilayah tersebut yang sudah dimulai sejak dua tahun. Di dekat fosil tengkorak tersebut, para arkeolog juga menemukan lebih dari 30.000 fosil hewan serat artifak-artifak dari batu dan tulang.

Fosil tengkorak tersebut nyaris membentuk tengkorak lengkap meskipun sudah terpisah dalam 16 keping. Sosok manusia yang memiliki tengkorak demikian mungkin keningnya kecil dan tulang di bawah alis yang menonjol.

“Kami berharap penemuan penting lebih banyak lagi,” ujar salah satu penemunya Li Zhanyang, arkeolog dari Henan Cultural Relics and Archeology Research Institut seperti dilansir Reuters, Rabu (23/1).

Tidak hanya membentuk tengkorak utuh, fosil ini menarik dipelajari karena masih mengandung jaringan membran otak di bagian dalamnya. Dengan demikian, jejak urat-urat syaraf nenek moyang manusia dari zaman Paleolotikum ini mungkin dapat dilacak.

Fosil manusia purba dari berbagai zaman banyak ditemukan di China. Salah satu fosil yang paling bernilai tinggi sejauh ini adalah fosil manusia Peking, fosil berusia antara 250.000-400.000 tahun di Beijing yang ditemukan tahun 1920-an.(REUTERS/WAH)


Pedang berusia 2500 tahun ditemukan di kompleks kuburan tua di Jiangxi, China.

Pedang Berusia 2500 Tahun Ditemukan di China

Para arkeolog China menemukan pedang yang dibuat sangat rapi, yang mereka yakini telah berusia antara 2.500 dan 2.600 tahun, di sebuah kuburan kuno di bagian selatan Jiangxi.

“Pedang itu diduga sebagai benda tertua yang ditemukan di negara itu,” Xu Changqing, ketua tim penemuan itu. Pedang yang dibuat secara cermat itu, berukuran panjang 50 sentimeter, berwarna hitam bercampur emas kemerah-merahan.

Seekor naga tergambar di ujung kedua sisi pedang itu, dan di bagian tengah benda kuno itu dihiasi dengan dua baris rancangan berbentuk W. Xu dan koleganya menjulukinya “Pedang Pertama di Bawah Surga” dan ditempatkan bersama dua keping benda bersejarah yang disebut “Tikar Di Bawah Surga” dan “Kipas di Bawah Surga”. Semuanya ditemukan di kuburan yang sama.Sejak permulaan penggalian pada Januari tahun lalu, sedikitnya 1.000 benda peninggalan bersejarah ditemukan di kuburan kuno tersebut, yang dibangun pada awal musim semi dan musim gugur tahun 770-476 Sebelum Masehi. Penemuan tersebut mencakup 47 buah peti mayat.
Para arkeolog sedang mempelajari benda-benda berharga itu dengan harapan menemukan siapa yang menguburkannya dan apa makna budaya yang terkandung di dalamnya pada masa itu.


Para pekerja sedang menggali kuil berusia 1500 tahun yang ditemukan di situs Vasu Bihara di Bogra, Bangladesh.

Kuil Kuno Ditemukan di Bangladesh

Para arkeolog di Bangladesh menggali sebuah bangunan kuil dari batu bata berusia 1.500 tahun. Situs bersejarah tersebut ditemukan di distrik Bogra yang berada 170 kilometer arah barat laut ibukota Bangladesh, Dhaka.

Dinding bangunan kuil tersebut tersusun dari batu bata hingga ketebalan dua meter dan diperkuat tanah lempung. Setiap batu bata memiliki ukuran masing-masing panjang 35 centimeter, lebar 27 centimeter, dan tebal 4 centimeter.

Bangunan penguat yang menjaga dinding kuil agar kuat dan tidak mudah roboh juga dibuat dari batu bata. Lantai dari batu bata juga terlihat di salah satu ruangan yang terletak di bagian barat struktur bangunan tersebut. Di sekitarnya, ditemukan pula benda-benda antik seperti batu bata yang berukir.

“Namun, sejauh ini belum ditemukan bagian pintu masuk kuil,” ujar Nahid Sultana, seorang petugas dari Departemen Arkeologi Bangladesh seperti dikutip suratkabar Star Daily, Sabtu (19/1). Bangunan tersebut diperkirakan di bangun saat seorang peziarah dari China bernama Xuan Zang berkunjung ke wilayah tersebut antara tahun 639-645. Namun, untuk mempelajarinya lebih lanjut, masih perlu penggalian lebih intensif dan pengumpulan informasi lebih lengkap mengenai sejarah dinding tersebut.


Piramid Kukulkan peninggalan peradaban Bangsa Maya.
Tumbal Bangsa Maya Anak Laki-laki, Bukan Perawan

Tumbal dalam ritual Bangsa Maya Kuno di Benua Amerika mungkin anak laki-laki, bukan gadis perawan seperti diyakini selama ini. Sebagian besar tulang-belulang yang ditemukan di bekas lokasi pengorbanan lebih mirip dengan struktur tulang laki-laki daripada perempuan.

Bangsa Maya pernah mencapai masa kejayaan dengan mendiami wilayah yang membentang dari Amerika Tengah hingga selatan Meksiko. Namun, kejayaan Maya hancur sejak penaklukkan Spanyol tahun 1500-an. Meski demikian, sisa-sisa perabannya yang telah maju masih dapat dilihat dari piramid-piramid yang dibangun di dalam lebatnya hutan.

Namun, Bangsa Maya juga terkenal dengan budaya ritualnya yang kejam. Mereka secara rutin mengorbankan anak-anak untuk memohon hujan dan kesuburan.

“Selama ini diyakini bahwa Dewa menyukai sesuatu yang kecil-kecil dan khususnya Dewa Hujan (Chaac) memiliki empat pembantu yang digambarkan dengan sosok empat orang berukuran kerdil,” ujar Guillermo de Anda, seorang arkeolog dari Universitas Yucatan, Meksiko seperti dikutip Reuters, Rabu (23/1). Jadi, anak-anak dijadikan tumbal untuk berkomunikasi langsung dengan dewa.

Tumbal dilempar ke dalam gua bawah tanah berisi air yang sering disebut juga cenote. Gua yang dikeramatkan itu diyakini sebagai sumber air bagi bangsa Maya dan sekaligus gerbang ke dunia gaib.

Sebelumnya, para arkeolog mengira korban anak-anak yang dijadikan tumbal adalah gadis-gadis perawan. Sebab, tulang-belulang yang ditemukan di dasar gua seringkali disertai perhiasan dari batu-batu permata. Namun, mengenali ciri seksual secara pasti termasuk sulit mengingat tulang-belulangnya belum tumbuh dewasa.

Anda kemudian mengumpulkan sekitar 127 tulang yang ditemukan saat menyelam ke dasar salah satu gua keramat di wilayah Chichen Itza. Setelah dipelajari, sekitar 80 persennya lebih mirip tulang seorang anak laki-laki berusia antara 3 hingga 11 tahun daripada perempuan. Sisanya, menurut Anda, merupakan tulang manusia dewasa.Ia yakin bahwa bukti-bukti peninggalan budaya yang tertuang dalam mitologi Maya akan memperkuat pendapat bahwa tumbal tersebut memang anak laki-laki.


Spesimen Brachylophosaurus berusia 77 juta tahun yang ditemukan di Malta masih mengandung kulit, daging, dan organ yang membatu bersama tulang-belulangnya.

Mumi Dinosaurus Dipelajari di Museum Houston

Fosil dinosaurus yang masih mengandung jaringan kulit dan daging dibawa ke Museum Sains Alam Houston, Texas, AS untuk dipelajari. Fosil tersebut juga akan dipamerkan untuk pertama kalinya kepada publik.

Sebagian organ, jaringan kulit, dan dagingnya mengeras bersama tulang-belulangnya sehingga para arkeolog menyebutnya sebagai mumi. Fosil yang ditemukan di Malta tahun 2000 itu berasal dari spesies Brachylophosaurus, dinosaurus yang memiliki paruh seperti bebek. Usianya diperkirakan 77 juta tahun.

Sejak ditemukan, spesimen yang diberi nama Leonardo itu disimpan sementara di bekas toko otomotif yang disulap menjadi Dinosaur Field Station. Ia akan menjadi koleksi unggulan Museum Dinosaurus Great Plains, sebuah museum baru yang akan dibuka di Malta pada 6 Juni 2008.

Namun, Leonardo belum akan dipamerkan di Malta sampai lebih dari setahun ke depan karena masih dipelajari di Texas. Fosil tersebut akan dikirim ke Texas pada Maret 2008 menggunakan kotak khusus yang dilapisi kantong udara untuk menjaga keutuhannya.

“Berat melepas Leonardo, banyak orang datang ke sini hanya untuk melihat Leonardo,” ujar Dixie Stordahl, manajer Dinosaur Field Station. Namun, hasil penelitian akan memberikan pengaruh lebih baik dalam jangka panjang.

Sejauh ini, para ilmuwan telah menggunakan pemindai sinar-X untuk melihat struktur lidah Leonardo, sayap dan perutnya. Di Museum Houston, alat pemindai tomografi (CT scan) berukuran besar milik NASA akan dapat melihat seluruh bagian organnya lebih detil. Proses pemindahan dan penelitian terhadap fosil Leonardo untuk mengungkap kehidupannya di masa lalu akan difilmkan Discovery Channel. Sedangkan seluruh penadanaan akan dikelola Judith River Foundation yang berharap dapat mengumpulkan sumbangan hingga 3 juta dollar AS untuk merampungkan penelitian dan dokumentasi Leonardo.

Sebelumnya, mumi dinosaurus juga ditemukan dari spesies lainnya, misalnya spesimen Dakota yang ditemukan di Dakota Utara tahun 1999. Fosil tersebut berusia lebih muda dari Leonardo karena berusia 67 tahun.


Bagian-bagain tubuh cacing Machaeridian yang memiliki punggung keras seperti baju zirah ditunjukkan dengan warna kuning (batang tubuh), merah (semacam lengan), abu-abu (rambut), hijau (pelindung punggung), ungu (usus), dan biru (punggung).

Ditemukan Fosil Utuh Cacing Berbaju Zirah

Eureka! Untuk pertama kalinya, para ilmuwan menemukan fosil utuh cacing purba ‘berbaju zirah’ yang memiliki pelindung punggung keras seperti tameng. Penemuan ini dapat membuka tabir hewan yang masih misterius selama 150 tahun.

Fosil tersebut ditemukan Peter Van Roy, seorang mahasiswa Universitas Ghent, Jerman, saat meneliti bersama geolog Universitas Yale, Inggris, Derek Briggs, dan mahasiswa bimbingan Briggs, Jakob Vinther di Maroko.

Di bawah lapisan terluar tubuhnya yang berbuku-buku masih tersisa fosil jaringan lunaknya. Di sisi kanan dan kiri tubuhnya terdapat semacam lengan yang berambut sebagai tanda bahwa hewan tersebut termasuk kelompok annelida (cacing bersegmen).

Selama ini, fosil hewan yang disebut Macharidians ini hanya ditemukan bagian-bagiannya saja dan belum pernah diketahui struktur utuh tubuhnya. Hewan tersebut tidak memiliki tulang belakang (invertebrata) dan berukuran kecil hanya sepanjang 2,5 centimeter.

Dengan fosil yang utuh, klasifikasinya dalam pohon evolusi semakin jelas dikaitkan dengan sesama keluarga annelida bersama cacing tanah, lintah, dan cacing laut polychaete. Berdasarkan temuan-temuan fosilnya, Macharidians diperkirakan punah sejak 300 juta tahun lalu sebelum zamannya Dinosaurus.

Pesawat ulang alik Atlantis mendarat di Kennedy Space Center, 20 Februari2008.

Wahana Ulang Alik

CAPE CANAVERAL, KAMIS – Wahana ulang alik Atlantis mendarat dengan mulus di Kennedy Space Center, Florida setelah menyelesaikan misinya. Tujuh awaknya telah berhasil memasang modul laboratorium Colombus milik Eropa di stasiun antariksa internasional (ISS) dalam tiga kali spacewalk atau melayang di atas lengan robotik. Atlantis mendarat sesuai jadwal, Selasa (20/2) pukul 09.07 waktu setempat atau pukul 21.07 WIB.

Salah satu awaknya, Leopold Eyharts, sersan astronot dari Prancis, tinggal di orbit menggantikan Daniel Tani, astronot AS yang telah bertugas di sana sejak bulan Oktober 2007. Eyharts akan menghabiskan waktu dalam beberapa minggu ke depan untuk menyempurnakan operasioal Colombus. Kehadiran Colombus di ISS merupakan momentum penting peran negara-negara Eropa dalam program antariksa bersama.

Dengan dipasangnya laboratorium tersebut, badan antariksa Eropa (ESA) secara resmi berhak mengirimkan satu astronotnya setiap dua tahun sekali ke orbit untuk menjalankan tugas selama 6 bulan. Laboratorium tersebut akan diawasi dari pusat kendali di Kota Oberpfaffenhofen, Jerman. Laboratorium Colombus dibangun untuk penelitian-penelitian bioteknologi, material, dan kedokteran.

Dalam kondisi tanpa bobot, penelitian diharapkan dapat memacu pengembangan alat elektronika, material, obat, dan bibit tanaman yang lebih tahan kondisi ekstrim. Selain menyumbangkan laboratorium, negara-negara Eropa juga segera menguji coba wahana kargo antariksanya yang mampu membawa logistik seberat 5 ton.

Wahana bernama Automated Transport Vehicle (ATV) yang mendapat julukan Jules Verne ini akan diluncurkan pertama kali ke ISS dari Kourou, Guyana Prancis, pada 8 Maret 2008. Wahana ulang alik NASA lainnya, Endeavour, telah bersiap untuk peluncuran tanggal 11 Maret 2008. Endevaour akan membawa bagian pertama laboratorium Kibo milik Jepang yang juga akan dibangun di ISS.

Bagian lainnya akan dibawa wahana Discovery pada 24 April 2008 bersama robot Dextre milik Kanada. Kedua wahana akan bergantian menyelesaikan misi pembangunan ISS sampai 2010. Wahana Atlantis telah merampungkan misi peluncuran dalam proyek ini, namun pada Agustus atau September 2008, wahana tersebut akan dikirim untuk memperbaiki teleskop ruang angkasa Hubble yang telah uzur namun ingin dipertahankan.

NASA harus melakukan 10 kali peluncuran wahana ulang alik sampai tahun 2010 untuk menyelesaikan pembangunan proyek raksasa ISS yang bernilai 100 miliar dollar AS. Sampai 2013, lalu lintas tansportasi dari Bumi ke ISS mungkin hanya dilakukan dengan wahana milik Russia sampai wahana pengganti milik NASA, yang juga akan dipakai untuk misi ke Bulan, siap diluncurkan.

HEADSET KENDALI OTAK

Tan Le mengenakan headset Epoc buatan Emotiv untuk mengendalikan komputer langsung dari pikiran

Tahun lalu, para ilmuwan telah mendemonstrasian kebolehannya mengembangkan alat kendali otak untuk menggerakkan kursor komputer dan bermain game tanpa harus menyentuh keyboard atau joystic sama sekali. Kini, alat tersebut segera dinikmati para penggila game.

Sebuah perusahaan teknologi dari AS dan Australia bernama Emotiv siap memasarkan produk pertamanya. Headset mirip helm yang akan menerjemahkan interaksi sinyal-sinyal otak menjadi perintah ke komputer akan dijual mulai akhir tahun ini.

“Ia menangkap aktivitas listrik dari otak dan mengirimkan sinyal secara nirkabel ke komputer,” ujar Tan Le, Presiden Emotiv. Dengan memakainya, penggunanya akan merasa melakukan perintah secara alami sehingga seolah-olah masuk ke dunia virtual secara langsung.

Alat tersebut dapat menangkap sinyal otak dengan teknologi electroencephalography (EEG). Headset kendali otak yang diberi nama Epoc ini akan membaca kombinasi sinyal yang dihasilkan sekitar 100 miliar sel-sesl syaraf atau neuron otak.

Untuk menggerakkan objek di layar, penggunanya cukup berpikir apa yang ingin dilakukan. Sejauh ini, alat ini sudah dapat mendeteksi lebih dari 30 ekspresi, emosi, dan perintah dari otak. Antara lain perintah mendorong, menarik, mengangkat, menjatuhkan, dan berputas. Juga ekspresi tersenyum, tertawa, terkejut, dan marah.

Teknologi ini dipastikan aman digunakan dan tidak merusak otak atau membahayakan tubuh manusia. EEG bukanlah teknologi baru dalam dunia medis dan diperkenalkan sejak 100 tahun lalu.

Cara kerjanya juga sudah dihubungkan dengan komputer sejak tahun 1970-an. Namun, mungkin baru kali ini teknologi tersebut dimanfaatkan untuk bermain video game.

“Ini akan menjadi handset pertama yang tidak membutuhkan banyak jaringan elektroda, atau teknisi untuk mengatur kalibrasi, atau pengoperasiannya dan juga gel di permukannya,” ujar Le. Harga setiap unitnya akan dijual sekitar 299 dollar AS.

Epoc menggunakan sebuah gyroscope untuk mendeteksi pergerakan dan koneksi WiFi untuk berhubungan dengan komputer. (BBC)

MUMI

Busur dan anak panah ditemukan di dekat mumi yang ditemukan di dekat mumi dalam sebuah kuburan di kompleks pemakaman kuno di Luxor, Mesir.

Mumi yang ditemukan di dalam sebuah makam di Kota Luxor, Mesir mungkin seorang ksatria di zamannya. Sebab, para arkeolog yang menggalinya menemukan tiga buah tongkat, sebuah busur panah, dan lima anak panah di dekatnya. Tiga di antaranya masih utuh dengan bulunya.

“Ini artinya orang tersebut adalah seorang pejuang. Ia berjuang di militer atau sejenisnya…. ada banyak pejuang yang bergabung dengan raja, dan ia mungkin salah satunya,” ujar Zahi Hawass, sekretaris jendral Dewan Tinggi Purbakala Mesir seperti dilansir situs National Geographic, Jumat (15/2). Makam tersebut diteliti tim arkeolog yang dipimpin Jose Galan dari Dewan Riset Nasional Spanyol.

Kuburan tersebut berada di kompleks pemakaman kuno Dra Abul Naga, bagian barat Luxor. Di peti kayu yang baru pertama kali dibuka, Rabu (13/2) lalu, para arekolog juga menemukan ukiran bertuliskan Iker. Dalam bahasa Mesir Kuno, Iker berarti salah satu yang terbaik.

Kompleks pemakaman di sana lebih banyak dikenal sebagai kuburan Zaman Kerajaan Baru, yang berlangsung antara 1550 hingga 1070 sebelum Masehi. Namun, peti yang membungkus mumi tersebut diperkirakan lebih tua dan berasal dari Zaman Kerajaan Pertengahan. Berdasarkan ukiran peti tersebut dan benda-benda yang ditemukan di dekatnya, para arkeolog memprediksi penguburan dilakukan pada masa dinasti kesebelas, antara 2125-1985 sebelum Masehi.

Saat itu, prajurit memang memainkan peran besar dalam sejarah Mesir. Kekuatan militer di zaman Mesir Kuno akhirnya menjadi pemersatu kembali Bangsa Mesir setelah perang sipil yang berlangsung bertahun-tahun.
Penemuan makam prajurit atau tentara yang diberi status tinggi di era peperangan termasuk langka. Galan dan timnya berencana memindahkan mumi dari dalam peti untuk dipindai dengan sinar-X. Mereka berharap dapat mengungkap lebih jelas sejarah Iker,,,,,Di tengah cadangan minyak semakin menipis dan harga yang bergejolak, siapa menyangka kalau nun jauh di luar angkasa terdapat sumber minyak yang sangat melimpah dan lebih besar dari seluruh cadangan minyak di Bumi. Baru-baru ini para peneliti menyiarkan bahwa Titan, salah satu bulannya Planet Saturnus yang beratmosfer tebal, menyimpan kandungan gas alam dan cairan hidrokarbon lain ratusan kali lipat lebih banyak dari yang terkandung di Bumi.

Perbandingan Bumi dengan Titan, salah satu bulannya Planet Saturnus.


Sejauh ini telah ditemukan beberapa ratus danau dan laut di daerah kutub utara Titan. Untuk mendapatkan gambaran potensi sumber daya alam disana, ilmuwan mengukur kedalaman perairan disana dengan menggunakan pembanding danau-danau di Bumi, dimana kedalaman danau seringkali kurang dari 10 meter.

“Dengan demikian kita tahu kedalaman beberapa danau lebih dari 10 meter, karena mereka tampak sangat gelap di radar. Kalau dangkal, kita akan dapat melihat dasarnya,” kata Ralph Lorenz dari laboratorium fisika terapan di John Hopkins University.

Kesimpulan tersebut didapat berdasarkan pemantauan melalui wahana Cassini milik NASA, yang telah menuntaskan survei terhadap 20 persen permukaan Titan. Hasil pantauan tersebut juga memperlihatkan bahwa kandungan sumber daya alam di beberapa wilayah di bulan itu saja sudah lebih banyak dari semua kandungan sumber daya alam di bumi (minyak bumi, gas alam dan batu bara).

Meskipun demikian, para peneliti juga mengatakan bahwa Titan tidak dapat ditinggali manusia. Menurut mereka, permukaanya tidak mengandung air, melainkan hidrokarbon cair dalam bentuk methane dan ethane, sementara daratannya terbentuk dari tholins. Kondisi ini diduga serupa dengan Bumi pada waktu sebelum ada kehidupan.

“Kami memperkirakan kodisi serupa juga terdapat di daerah kutub selatan, namun kami belum tahu berapa jumlah kandungan cairan disana,” kata Ralph. Menurut dia, data ini penting karena umur hidup Titan tergantung dari berapa banyak jumlah methane yang terkandung dalam zat cair disana.

Lanjutnya, jika kandungan methane habis, maka suhu disana akan semakin dingin, yang saat ini diketahui minus 179 derajat Celcius. Asumsi sementara, kandungan methane tersebut semakin berkurang melalui letusan gunung api, yang diperkirakan telah menyebabkan fluktuasi suhu yang dramatis di masa lalu.

“Memahami kompleksitas yang terjadi di Titan dapat membantu kita memahami asal-usul kehidupan di alam semesta,” kata Ralph.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori