BAJU BODO / BAJU TOKKO

18 11 2008

Baju bodo adalah baju adat Bugis-Makassar yang dikenakan oleh perempuan. Sedangkan Lipa’ sabbe adalah sarung sutra, biasanya bercorak kotak dan dipakai sebagai bawahan baju bodo.

Konon dahulu kala, ada peraturan mengenai pemakaian baju bodo. Masing-masing warna manunjukkan tingkat usia perempuan yang mengenakannya.
1. Warna jingga, dipakai oleh perempuan umur 10 tahun.
2. Warna jingga dan merah darah digunakan oleh perempuan umur 10-14 tahun.
3. Warna merah darah untuk 17-25 tahun.
4. Warna putih digunakan oleh para inang dan dukun.
5. Warna hijau diperuntukkan bagi puteri bangsawan
6. Warna ungu dipakai oleh para janda.
Baca entri selengkapnya »





DOKO-DOKONA PASSOMPE’E

18 11 2008

Karya : DR B.F.Matthes, Boeginische Chrestomathic, I.P.L-27 dalam Rahim (1985:207-227).
Disadur Oleh : Ir.H.Abdu Samad H.A.Umar, M.Si.
Ceritera ini merupakan ceritera rakyat (Legenda) yang mempunyai banyak peristiwa yang luar biasa. Substansinya ada pada Nilai-nilai Utama Kebudayaan Bugis, dan sangat berguna pada saat ini dimana budaya sipakatau atau sipakalebbi sudah mengalami pergeseran dalam alam demokrasi lokal. Baik itu masyarakat lokal maupun bagi pasompe (Pengembaraan Orang Bugis) yang senantiasa rindu kampung halamannya, maupun pernah mendengar ceritera masa lampau oleh orang tua kita dahulu hingga dibawa ke perantauan. Hal ini merupakan ceritera tersendiri di kalangan pasompe, membuat rindu kampung halaman, sanak saudara dan Wari’ (asal usul), memperpanjang usia (lamperi sunge) karena mengembang biakkan manusia (Pabbija Tau) dan Merindangkan Pepohonan (Palorong Welareng) di tanah seberang di mulai dari Cina, Malaysia, Singapura, Kamboja, Philipina, dan Australia (Hamid;2004). Bahkan sampai ke Johor, Selangor, Trenggano, dan Pahang. Begitu pula La Maddukelleng dalam pengembaraannya menaklukkan Kesultanan Pasir tahun 1726, kemudian merebut Kutai, Pangatan, Banjarmasin dan daerah sekitarnya. Disebutkan bahwa La Maddukelleng kawin dengan anak Sultan Pasir yang bernama Andeng Ajeng. Setelah Sultan Sepuh Alamsyah (Sultan Pasir 14, Ayahanda Andeng Ajeng) wafat, istri La Maddukelleng dicalonkan menjadi Ratu Pasir, Namun sebagian orang-orang pasir menolak pencalonan tersebut. Akibat dari penolakan itu, pasukan La Maddukelleng menyerang dan menaklukkan Pasir. Hasil penaklukan tersebut La Maddukelleng naik tahta menjadi Sultan Pasir ke 15, selain itu beliau juga bergelar Arung Peneki, Arung Singkang, Arung Matoa Wajo ke XXXI (Maulana;2003).
Baca entri selengkapnya »





MEONG PALO KARELLAE

18 11 2008

oleh : Ir. H. Abdu Samad H. A. Umar, M.Si
Adalah salah satu episode dari epos La Galigo, suatu karya sastra yang bersifat mitologis, tetapi pada hakekatnya nilai-nilai yang terkandung di dalamnya adalah sesuatu positif dan universal.
Meong Palo Karellae (MPK) yang artinya kucing loreng ke merah-merahan ( Bone, Soppeng, Wajo, Sidenreng Rappang), di Luwu biasa disebut Meong Palo Bolonge (MPB) yang artinya kucing loreng kehitam-hitaman, secara prinsipil versinya tidak berbeda hanya menyangkut istilah dan cara pandang seseorang terhadap Meong Paloe, apabila kucing tersebut dilihat dari depan maka warna yang dominan adalah hitam keloreng-lorengan, sebaliknya apabila dipandang dari samping maka kucing itu kelihatan berwarna merah keloreng-lorengan. Sehingga sampai saat ini di kalangan masyarakat Bugis bahwa kucing yang mempunyai warna merah atau hitam keloreng-lorengan dianggap mempunyai aspek kedewataan, karena itu ia harus diperlakukan sebagai makhluk yang sakral dan keramat.
Baca entri selengkapnya »